Tragedi El-Fasher: Laporan PBB Ungkap Pembantaian 6.000 Warga dalam 3 Hari di Sudan
KHARTOUM – Sebuah laporan mengerikan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap skala kekejaman yang terjadi saat pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) merebut kota El-Fasher tahun lalu. Dalam kurun waktu hanya tiga hari, lebih dari 6.000 orang dilaporkan tewas dalam apa yang digambarkan sebagai “adegan film horor” di dunia nyata.

Intisari Berita:
-
Korban Jiwa Massal: Sedikitnya 6.000 warga sipil tewas dalam tiga hari serangan RSF di El-Fasher.
-
Kekejaman Perang: Laporan mencatat adanya eksekusi tanpa pengadilan, penyiksaan, penculikan, dan kekerasan seksual sistematis.
-
Krisis Pengungsi: Perang saudara Sudan telah memaksa lebih dari 13 juta orang meninggalkan rumah mereka.
-
Sanksi Internasional: Inggris menjatuhkan sanksi pada tokoh kunci, sementara UEA membantah keterlibatan pasokan senjata.
Kesaksian Mengerikan dari Garis Depan
Berdasarkan kesaksian dari 140 korban dan saksi mata yang dikumpulkan di Sudan Utara dan Chad Timur, serangan terhadap El-Fasher merupakan salah satu titik terkelam dalam konflik Sudan yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun.
Seorang saksi mata menceritakan kepada BBC bagaimana pejuang RSF melepaskan tembakan ke arah 1.000 warga yang berlindung di sebuah gedung universitas. “Mayat-mayat berhamburan ke udara,” kenangnya. PBB mengonfirmasi bahwa 4.400 orang tewas di dalam kota, sementara 1.600 lainnya tewas saat mencoba melarikan diri melalui jalur keluar kota.
Analisis Mendalam: Mengapa El-Fasher Begitu Penting?
1. Hubungan Strategis dan Geopolitik
El-Fasher bukan sekadar kota biasa; ini adalah ibu kota Darfur Utara dan pusat bantuan kemanusiaan terakhir di wilayah tersebut sebelum jatuh ke tangan RSF. Kejatuhannya menandakan kendali penuh paramiliter atas wilayah Darfur, yang secara historis merupakan titik panas konflik etnis.
2. Dugaan Genosida di Darfur
Amerika Serikat dan Human Rights Watch telah menyatakan bahwa RSF dan sekutunya melakukan genosida. Hal ini dilakukan terhadap suku Massalit dan komunitas non-Arab lainnya. Meski laporan PBB terbaru belum menggunakan terminologi “genosida”, mereka menegaskan adanya kejahatan terhadap kemanusiaan yang terencana.
3. Skandal Persenjataan Global
Isu internasional mencuat ketika muncul klaim bahwa senjata yang dijual secara sah oleh Inggris ke Uni Emirat Arab (UEA) diduga dialihkan ke tangan RSF. Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, menegaskan komitmennya untuk memperketat kontrol ekspor guna mencegah penyalahgunaan senjata di zona konflik.
Masa Depan Sudan: Persatuan yang Terancam
Rencana koalisi Aliansi Pendiri Sudan (yang terkait dengan RSF) untuk mendirikan pemerintahan tandingan di wilayah barat memicu alarm bahaya. Uni Afrika secara tegas menolak rencana ini, memperingatkan bahwa pemerintahan ganda hanya akan mempermanenkan perpecahan negara dan menghancurkan prospek perdamaian.
“Skala sebenarnya dari jumlah korban tewas selama serangan yang berlangsung selama seminggu itu tidak diragukan lagi jauh lebih tinggi daripada yang tercatat.” — Laporan Hak Asasi Manusia PBB.








